Tag Archives: cancer

Kanker darah Leukimia

Faktor Penyebab dan Jenis Kanker Darah yang Paling Sering Terjadi

Kanker darah atau leukemia adalah kanker yang menyerang sel-sel yang membentuk sel darah dalam sumsum tulang. Pada kondisi normal, sel-sel darah putih akan berkembang secara teratur di saat tubuh membutuhkannya untuk memberantas infeksi yang muncul.

Namun lain halnya dengan pengidap kanker darah. Sumsum tulang akan memproduksi sel-sel darah putih yang abnormal, tidak dapat berfungsi dengan baik, dan secara berlebihan. Jumlahnya yang berlebihan akan mengakibatkan penumpukan dalam sumsum tulang sehingga sel-sel darah yang sehat akan berkurang.

Jenis-jenis Kanker Darah

Ada berbagai jenis kanker darah. Berdasarkan kecepatan perkembangannya, kanker ini dapat dikelompokkan menjadi akut dan kronis.

Kanker darah akut berkembang dengan cepat akibat penambahan jumlah sel darah putih yang abnormal yang pesat dan penyebarannya ke dalam aliran darah. Jenis ini harus ditangani dengan segera.

Sementara itu, kanker darah kronis berkembang secara perlahan-lahan dan dalam jangka panjang. Gejalanya cenderung tidak segera dirasakan sehingga baru terdiagnosis setelah bertahun-tahun. Sel-sel darah putih yang seharusnya sudah mati akan tetap hidup dan menumpuk dalam aliran darah, sumsum tulang, serta organ-organ lain yang terkait.

Kanker darah juga dapat dikategorikan menurut jenis sel darah putih yang diserang. Kanker darah yang menyerang sel-sel limfa dikenal dengan istilah leukemia limfotik dan yang menyerang sel-sel mieloid disebut leukemia mielogen.

Berdasarkan dua pengelompokan di atas, terdapat empat jenis kanker darah yang paling sering terjadi. Berikut ini penjelasan untuk masing-masing jenis.

Leukemia limfotik akut atau acute lymphocytic leukemia (ALL)

ALL dapat menghambat fungsi limfosit sehingga pengidapnya berpotensi mengalami infeksi yang serius. Kanker darah ini umumnya diidap oleh anak-anak, tapi juga mungkin menyerang dewasa.

Leukemia mielogen akut atau acute myelogenous leukemia (AML)

Ini adalah jenis kanker darah yang umumnya menyerang dewasa. Tetapi AML juga dapat diidap oleh anak-anak serta remaja. Kanker ini akan membentuk sel-sel mieloid yang tidak sempurna dan dapat menyumbat pembuluh darah.

Leukemia limfotik kronis atau chronic lymphocytic leukemia (CLL)

Jenis kanker darah ini hanya dialami oleh orang dewasa. CLL umumnya baru terdeteksi pada stadium lanjut karena pasien cenderung tidak merasakan gejala-gejalanya untuk waktu yang lama.

Leukemia mielogen kronis atau Chronic myelogenous leukemia (CML)

Jenis kanker darah ini umumnya diderita oleh dewasa. CML memiliki dua tahap. Pada tahap pertama, sel-sel abnormal akan berkembang secara perlahan-lahan. Lalu saat memasuki tahap kedua, jumlah sel-sel abnormal akan bertambah dengan pesat sehingga kondisi pasien akan menurun secara drastis.

Secara umum, kanker darah atau leukemia terjadi akibat produksi sel darah putih yang terlalu cepat sehingga banyak sel yang masih belum terbentuk secara sempurna dan akhirnya kekebalan tubuh penderitanya tidak berfungsi secara maksimal.

Gejala-gejala Kanker Darah

Gejala kanker darah sangat beragam. Tiap penderita biasanya mengalami indikasi yang berbeda-beda, tergantung kepada jenis kanker darah yang diidap.

Indikasi-indikasi kanker ini juga cenderung sulit dikenali karena cenderung mirip dengan kondisi lain, seperti flu. Karena itu, kita perlu mewaspadai gejala-gejala umum yang tidak kian membaik atau mereda, seperti:

  • Lemas atau kelelahan yang berkelanjutan.
  • Demam.
  • Menggigil.
  • Sakit Kepala.
  • Muntah-muntah.
  • Keringat berlebihan, terutama pada malam hari.
  • Nyeri pada tulang atau sendi.
  • Penurunan berat badan.
  • Pembengkakan pada limfa noda, hati, atau limpa.
  • Muncul infeksi yang parah atau sering terjadi.
  • Mudah mengalami pendarahan (misalnya sering mimisan) atau memar.
  • Muncul bintik-bintik merah pada pada kulit.

Jika Anda atau anak Anda mengalami gejala-gejala di atas, segera hubungi dan periksakan diri ke dokter. Terutama untuk gejala yang sering kambuh atau tidak kunjung membaik.

Penyebab dan Faktor Risiko Kanker Darah

Penyebab dasar kanker darah belum diketahui secara pasti. Tetapi terdapat sejumlah faktor yang diduga dapat meningkatkan risiko seseorang untuk terkena kanker ini. Faktor-faktor pemicu kanker darah tersebut meliputi:

  • Faktor keturunan. Jika memiliki anggota keluarga yang mengidap kanker darah, risiko Anda untuk terkena kanker yang sama akan meningkat.
  • Kelainan genetik, misalnya sindrom down.
  • Pernah menjalani pengobatan kanker. Kemoterapi atau radioterapi tertentu diduga dapat memicu kanker darah.
  • Pengaruh kelainan darah yang diderita, misalnya myelodysplastic syndrome.
  • Pernah mengalami pajanan terhadap radiasi tingkat tinggi atau zat-zat kimia tertentu. Misalnya orang yang pernah terlibat dalam kecelakaan yang berhubungan dengan reaktor nuklir atau mengalami pajanan zat kimia seperti benzena.
  • Merokok. Rokok tidak hanya akan meningkatkan risiko kanker darah (terutama leukemia mielogen akut), tapi juga berbagai penyakit lain.

Diagnosis dan Pengobatan Kanker Darah

Pada tahap awal, dokter akan menanyakan gejala-gejala yang ada sebelum memeriksa kondisi fisik Anda. Jika menduga Anda mengidap kanker darah, misalnya karena adanya pembengkakan pada limfa noda, hati, atau limpa, dokter akan menganjurkan pemeriksaan lebih mendetail yang meliputi tes darah serta biopsi sumsum tulang.

Tes darah akan menunjukkan kadar sel darah putih yang abnormal. Sementara biopsi sumsum tulang digunakan untuk memastikan keberadaan sel-sel kanker darah. Prosedur yang dilakukan dengan mengambil sampel sumsum tulang ini juga digunakan untuk mengetahui jenis kanker darah.

Setelah diagnosis kanker darah positif, dokter akan mendiskusikan langkah pengobatan yang tepat. Jenis penanganan yang akan Anda jalani tergantung kepada banyak faktor, antara lain usia dan kondisi kesehatan Anda serta jenis dan stadium kanker darah yang Anda idap. Berikut ini adalah metode pengobatan yang umumnya dianjurkan untuk menangani kanker darah.

  • Kemoterapi untuk membunuh sel-sel kanker.
  • Radioterapi untuk menghancurkan dan menghambat pertumbuhan sel-sel kanker.
  • Terapi terfokus untuk menyerang bagian-bagian rentan dalam sel-sel kanker.
  • Terapi biologis untuk membantu sistem kekebalan tubuh mengenali dan menyerang sel-sel kanker.
  • Transplantasi sel induk atau stem cell untuk penggantian sumsum tulang yang sudah rusak dengan yang sehat. Sel-sel induk yang digunakan bisa berasal dari tubuh Anda sendiri atau tubuh orang lain sebagai pendonor. Kemoterapi atau radioterapi biasanya akan dilakukan sebagai langkah persiapan sebelum menjalani prosedur transplantasi ini.

Badan Kesehatan Dunia (PBB) atau WHO menyatakan bahwa pencegahan merupakan strategi terbaik yang paling efektif untuk mengontrol penyakit kanker. Lebih jauh dipaparkan bahwa satu dari tiga kasus kanker sesungguhnya dapat dicegah sebelum kanker tersebut meluas dan memperparah kondisi pasien.

Skema Pencegahan Kanker ditujukan bagi Anda yang ingin melakukan pencegahan terhadap penyakit kanker. Pencegahan dapat dilakukan oleh siapa saja, baik memiliki keturunan kanker atau tidak.

Bagi anda penderita Kanker Darah, kami dari jamuheritage.com telah menyediakan Skema Pengobatan Kanker Darah lengkap dengan dosis-dosis yang dibutuhkan.

Metastasis

Apa yang terjadi ketika kanker payudara bermetastasis di paru-paru?

Kanker payudara dapat terjadi metastatis di paru-paru mengacu pada kanker yang awalnya berkembang di dalam jaringan payudara dan telah menyebar ke paru-paru.

Kanker payudara dapat menyebar ke berbagai bagian tubuh. Hal ini disebut metastasis. Yang paling sering terjadi metastatis pada kanker payudara adalah kanker tulang, otak, paru-paru, dan hati.

Apa itu kanker payudara metastatik di paru-paru?

Metastasis adalah istilah yang merujuk pada kanker yang telah menyebar di luar area primer ke tempat berbeda di dalam tubuh. Kanker payudara metastatik di paru-paru mengacu pada kanker yang awalnya berkembang di dalam jaringan payudara tetapi telah menyebar ke paru-paru.

Kanker payudara adalah salah satu kanker paling umum di kalangan wanita. Sekitar 6–10 persen kanker payudara awal yang didiagnosis dokter bersifat metastasis. Jumlah ini tidak termasuk kanker payudara yang berlanjut ke stadium 4 setelah diagnosis awal. Biasanya, ahli kanker menyebut kanker payudara stadium 4 sebagai kanker payudara metastatik.

Beberapa sel kanker payudara metastasis ini dapat mempengaruhi paru-paru. Adalah penting bahwa seorang ahli onkologi mengkonfirmasi bahwa tumor di paru-paru adalah sekunder, artinya mengandung sel-sel kanker payudara. Jika tidak ada sel kanker payudara, tumor tersebut bisa menjadi kanker primer yang baru bertimbul.

Gejala

Orang mungkin tidak mengalami gejala kanker payudara metastasis di paru-paru dengan segera. Gejala yang muncul ketika kanker payudara metastasis di paru-paru meliputi:

  • batuk terus menerus
  • rasa sakit di paru-paru
  • kesulitan bernafas atau sesak napas
  • mengi
  • kelelahan
  • batuk darah
  • kehilangan selera makan
  • penurunan berat badan yang tidak disengaja

Penyebab

Sel-sel kanker terjadi pembelahan dan berkembang biak sehingga tumor primer akan tumbuh lebih besar. Ketika tumor primer sudah tumbuh membesar, maka sel-sel kanker ini dapat memasuki aliran darah atau sistem getah bening untuk melakukan perjalanan ke daerah yang jauh.

Dalam beberapa kasus, sejumlah kecil sel kanker payudara dapat bertahan dari perawatan awal dan tetap tidak aktif dalam tubuh selama beberapa waktu sebelum tumbuh lagi di situs utama atau menyebar ke area lain dari tubuh.

Sel kanker payudara harus mengalami perubahan signifikan untuk bertahan hidup dan tumbuh di paru-paru. Sel-sel ini juga harus berubah untuk menahan serangan dari sistem kekebalan tubuh. Pilihan pengobatan untuk kanker yang baru terbentuk akan tergantung pada bagaimana ia berubah selama metastasis. Sudah lazim bagi kanker untuk bermetastasis ke beberapa tempat sekaligus.

Diagnosa

Mendiagnosis kanker payudara metastatik di paru-paru dimulai dengan pemeriksaan fisik dan tes darah.

Jika penyedia layanan kesehatan mencurigai metastasis paru-paru, mereka kemungkinan akan memesan tes pencitraan, seperti:

  • Rontgen dada
  • CT scan
  • PET scan

Jika seorang dokter menemukan tumor di paru-paru, tugas mereka selanjutnya adalah memastikan bahwa tumor tersebut adalah kanker payudara metastatik dan bukan kanker paru-paru primer. Ini sangat penting bagi orang yang merokok atau sedang merokok.

Prosedur diagnostik lain yang dapat membantu mengkonfirmasi diagnosis kanker payudara metastasis termasuk:

  • menguji sampel lendir
  • bronkoskopi, tempat dokter memasukkan benang kamera yang fleksibel melalui hidung dan ke paru-paru untuk memeriksa struktur pernapasan
  • biopsi jarum paru-paru, tempat dokter mengangkat sampel jaringan paru-paru untuk pengujian lebih lanjut

 

Cara mengurangi risiko metastasis

Setelah seseorang menerima perawatan awal, kanker payudara dapat tertidur di dalam tubuh sebelum menyebar ke area lain. Orang-orang yang telah menerima pengobatan di masa lalu harus memantau diri mereka sendiri untuk tanda-tanda atau gejala yang dapat menunjukkan kambuhnya kanker.

Meskipun tidak ada cara tunggal untuk menghindari kanker payudara metastatik sepenuhnya, ada beberapa perubahan gaya hidup yang dapat membantu mengurangi risiko seseorang.

Orang-orang dapat mengurangi risiko metastasis dengan faktor-faktor berikut:

  • menjalani pemeriksaan kesehatan secara teratur
  • menjalani pemeriksaan kanker payudara secara teratur
  • makan diet seimbang
  • berolahraga secara teratur
  • tidak merokok atau berhenti merokok
  • menghindari asupan alkohol yang berlebihan
  • mempertahankan berat badan yang sehat
  • memantau kadar vitamin D
  • mengurangi stres

Pilihan pengobatan untuk kanker payudara metastatik di paru-paru

Dokter menganggap kanker payudara metastasis sebagai kanker stadium 4. Ini tidak dapat disembuhkan, dan perawatan berfokus pada melemahkan kanker untuk menghentikannya tumbuh saat bekerja untuk meningkatkan kualitas hidup bagi individu.

Perawatan untuk kanker payudara metastatik di paru-paru biasanya melibatkan obat-obatan sistemik, atau seluruh tubuh, yang mengobati kanker di seluruh tubuh, seperti yang berikut:

Kemoterapi. Kemoterapi adalah terapi obat yang menghancurkan semua sel yang tumbuh cepat dalam tubuh, baik kanker maupun sehat.

Terapi hormonal. Terapi hormon adalah pengobatan kanker yang mengontrol pertumbuhan sel kanker dengan menurunkan kadar hormon tertentu yang dibutuhkan kanker untuk tumbuh. Kanker payudara reseptor-positif hormon merespon dengan baik terhadap perawatan ini.

Terapi yang ditargetkan. Bentuk pengobatan kanker ini mencoba untuk mengobati kanker dengan lebih presisi daripada kemoterapi. Perawatan ini menargetkan reseptor, protein, atau molekul spesifik pada sel kanker yang memudahkan sistem kekebalan tubuh untuk mengidentifikasi dan menghancurkan sel kanker atau mengurangi pertumbuhannya.

Radiasi. Dalam kasus kanker payudara metastasis, dokter sering menggunakan terapi radiasi untuk mengurangi gejala dan mengendalikan pertumbuhan kanker. Terapi radiasi dapat membantu mengurangi rasa sakit dan menurunkan risiko patah tulang yang melemah akibat kanker.

Komplikasi

Kanker payudara metastatik di paru-paru dapat menyebabkan komplikasi kesehatan lainnya yang berdampak pada kesehatan dan kesejahteraan seseorang secara keseluruhan.

Cairan di paru

Sel kanker payudara dapat terbentuk di daerah antara bagian luar paru-paru, juga dikenal sebagai ruang pleura. Ini dapat menyebabkan penumpukan cairan berlebih, suatu kondisi yang dikenal sebagai efusi pleura ganas.

Efusi pleura ganas dapat memperburuk beberapa gejala kanker di paru-paru, termasuk:

  • batuk yang memburuk
  • sesak napas atau mengi
  • rasa sakit di dada

Dokter mengobati efusi pleura ganas dengan mengeringkan kelebihan cairan atau dengan melakukan prosedur yang dikenal sebagai pleurodesis. Ini melibatkan penutupan ruang antara paru-paru dan dinding dada, yang mencegah cairan menumpuk di antara dua lapisan.

Toksisitas karena perawatan

Perawatan kanker dapat menyebabkan efek samping yang signifikan yang memengaruhi kesehatan dan kualitas hidup seseorang secara keseluruhan. Kemoterapi dan perawatan kanker sistemik lainnya dapat menyebabkan berbagai gejala, seperti:

  • fungsi sistem kekebalan yang lebih rendah
  • infeksi
  • kelelahan
  • kehilangan selera makan
  • mual
  • muntah
  • sembelit

Dampak psikologis

Menerima diagnosis kanker stadium 4 dapat mmberikan dampak psikologis yang berkepanjangan. Orang dapat mengalami depresi, kecemasan, dan stres akibat kondisi mereka.

Orang yang berjuang dengan gejala psikologis negatif mungkin ingin mempertimbangkan bergabung dengan kelompok pendukung atau mencari konseling profesional untuk membantu mereka mengatasi situasi mereka. Menjangkau teman atau orang yang dicintai dapat membuat perbedaan yang signifikan.

 

Bagaimana Mencegah Kanker Usus _

Berbagai Upaya untuk Mencegah Kanker Usus Besar. Apa Saja ?

Kanker usus besar adalah salah satu jenis kanker yang menjadi penyebab kematian baik pada laki-laki maupun perempuan di dunia. Bila diabaikan, harapan hidup untuk pasien kanker usus besar stadium lanjut pada lima tahun kedepan sangat kecil kemungkinannya. Sebagian kasus kanker usus besar baru bahkan sudah ditemukan pada usia muda.

Namun, penyakit ini masih dapat dicegah dengan cara-cara yang sederhana. Upaya pencegahan ini sangat berkaitan dengan merubah gaya hidup dan pola makan. genetik memang menjadi salah satu faktor risiko dari kanker usus besar. Akan tetapi faktor risiko utama dari kanker usus besar adalah gaya hidup dan makanan. contoh asupan yang sudah terbukti berkaitan dengan risiko kanker usus besar adalah konsumsi daging merah dan daging olahan yang tinggi serta kurang asupan sayur dan buah.

Berdasarkan temuan ini, mengungkapkan bahwa merubah gaya hidup dan asupan gizi sehari-hari yang sederhana dapat mencegah dan menekan risiko kanker usus besar. Berikut ini adalah beberapa dari perubahan gaya hidup yang dianjurkan.

  1. Batasi daging merah, perbanyak sayur dan buah

Sesuai dengan tren sekarang ini, banyak orang yang lebih memilih  makan daging merah, daging yang diawetkan, kalengan dan yang diasap dibandingkan dengan makan sayuran atau buah-buahan karena mereka menilai sayur buah-buahan memiliki karbohidrat yang cukup tinggi. justru tren tersebut sangat menyesatkan dan dapat merugikan kesehatan masyarakat. Untuk mengendalikan risiko kanker usus besar, konsumsi daging merah sebaiknya dibatasi. Sebaliknya, konsumsi sayur dan buah sebaiknya ditingkatkan sesuai anjuran.

  1. Kendalikan berat badan dan gaya hidup

Hal lain yang tak kalah penting untuk dikendalikan adalah berat badan berlebih karena kegemukan merupakan salah satu faktor risiko kanker usus besar. Terkait pencegahan kanker usus besar, sebaiknya juga menghindari minuman beralkohol.

  1. Kenali faktor risiko, gejala dan pengobatan dini

Kanker usus besar yang baru ditangani pada stadium lanjut memang hanya memiliki harapan hidup lima tahun cukup kecil. Akan tetapi, apabila kanker usus besar yang ditangani secara medis sejak stadium awal memiliki harapan hidup yang jauh lebih besar. Bila tertangani sejak stadium awal, pasien kanker usus besar memiliki harapan hidup lima tahun sebesar 92 persen.

  1. Perhatikan Tingkat Kematangan dalam Memasak Daging

Cara memasak daging bisa menjadi penyebab mengapa daging merah dikaitkan dengan kanker usus besar. Memasak (seperti menggoreng, memanggang, atau membakar) daging pada suhu tinggi –bahkan sampai daging hangus- dapat menyebabkan interaksi antara kreatinin otot dengan asam amino. Akibatnya, sejumlah senyawa nitrosamine yang bersifat karsinogenik (senyawa penyebab kanker) terbentuk.

Karena tak bergejala di awal, salah satu cara untuk menemukan kanker usus besar dalam stadium dini adalah dengan melakukan pemeriksaan skrining secara rutin. Pemeriksaan skrining sangat disarankan bagi orang-orang dengan faktor risiko kanker usus besar yang tinggi. Oleh karena itu, penting bagi masyarakat untuk mengenali faktor-faktor risiko kanker usus besar yang dimiliki diri sendiri.

Semakin lanjut, kanker usus besar akan menyebabkan timbulnya beberapa gejala di mana salah satunya adalah adanya perubahan pola defekasi. Kondisi ini dapat dilihat dari mudahnya seseorang mengalami diare atau sembelit secara bergantian. Gejala lain yang mungkin dialami adalah sakit perut berulang, buang air besar berdarah, berat badan turun, pucat tanpa sebab yang jelas hingga terdapat benjolan pada perut ketika diraba. Pemeriksaan kolonoskopi dan dilanjutkan dengan biopsi merupakan metode utama untuk menemukan kanker usus ini pada usus Anda.

Selain itu pencegahan kanker usus besar juga bisa menggunakan obat herbal jamu heritage yaitu Curcatrol. Curcatrol terdiri dari beberapa komponen yang dipercaya secara turun temurun dapat mencegah kanker sehingga curcatrol bukanlah obat herbal yang hanya terdiri dari herbal tunggal dan obat herbal curcatrol tidak memiliki efek samping. disamping itu ada juga obat herbal yang dapat membantu yaitu Curmeric sebagai antioksidan dan anti radang sehingga membuat sel kanker tidak berkembang.

 

Jamu Heritage

Pasien Kanker Nasofaring Harus Hindari Makan Makanan Ini

Jamuheritage artikel

Pada sebuah survei dan penelitian terbaru menunjukkan bahwa setidaknya lima dari 100.000 orang di Indonesia menderita penyakit kanker nasofaring. Kanker nasofaring menempati urutan keempat dalam lima kelompok tumor ganas yang umum ditemukan di Indonesia, bersama dengan kanker payudara, leher rahim, paru-paru dan kulit. Kanker nasofaring yang paling umum ditemukan di Indonesia adalah kanker tenggorokan dan kanker kepala-leher.

Spesialis THT di Rumah Sakit Meilia Cibubur yaitu dr. Selfiyanti Bimantara, SpTHT-KL, mengsketsakan kanker nasofaring adalah jenis kanker yang tumbuh di nasofaring (di belakang rongga hidung, di belakang langit-langit). Kanker cukup berbahaya karena kanker ini sulit dideteksi pada tahap awal karena gejalanya menyerupai penyakit lain.

Ini adalah makanan yang harus dihindari oleh pasien Nasofaring:

  1. Jangan mengkonsumsi minuman beralkohol

Bagi penderita kanker nasofaring, alkohol adalah zat yang harus dihindari dalam tubuh, mengonsumsi alkohol dapat menyebabkan iritasi pada mulut, kerongkongan dan lambung, membahayakan tubuh pasien dan memengaruhi efektivitas pengobatan.

  1. Jangan mengonsumsi makanan beryodium tinggi

Pasien kanker nasofaring harus mengurangi konsumsi udang, kepiting, rumput laut dan jenis makanan tinggi-yodium lainnya, karena yodium larut dalam jaringan lunak yang mengarah pada ulserasi tumor, yang memengaruhi perawatan pasien.

  1. Jangan mengonsumsi makanan pedas

Dalam makanan sehari-hari, pasien kanker nasofaring harus menghindari bawang, jahe, cabai, lada, kayu manis, dan makanan pedas lainnya, karena jenis makanan ini dapat menyebabkan panas pada pembuluh darah tubuh, mengakibatkan kekambuhan atau penyebaran.

  1. Jangan mengkonsumsi makanan yang diawetkan

Jangan mengkonsumsi makanan yang diawetkan, seperti daging, acar, ikan asin, dan makanan yang mengandung nitrosamin dan karsinogen lainnya. Dalam penelitian tersebut ditemukan, kanker nasofaring berkaitan erat dengan mengonsumsi banyak makanan yang diawetkan. Selain itu, makanan jenis ini dapat memperparah kondisi penyakit pasien.

Jika Anda ingin mendapatkan hasil pengobatan yang efektif, pasien kanker nasofaring harus memperhatikan diet dengan baik, mengurangi konsumsi jenis makanan di atas, sehingga dapat mengurangi tingkat kerusakan pada tubuh pasien.

Obesitas

Mengapa Obesitas Berbahaya? Apakah Hubungannya Dengan Kanker?

Obesitas saat ini menjadi bahaya yang cukup mengancam kesehatan masyarakat karena meningkatnya penderita obesitas. Berdasarkan data dari Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018, penduduk berusia lebih dari 18 tahun yang mengalami obesitas meningkat dari 14,8 persen menjadi 21,8 persen. Menteri Kesehatan RI, Nila F Moeloek, mengatakan pola hidup masyarakat yang tidak sehat menyebabkan angka obesitas kian naik.

“Memang kita kayaknya gaya hidup kita nggak bener. Kesehatan itu kompleks, jangan menganggap masalah kesehatan itu sampingan,” tutur Menteri Kesehatan Nila F Moeloek. Obesitas menjadi salah satu faktor awal dari berbagai penyakit tidak menular seperti diabetes, stroke, penyakit jantung, hipertensi, gagal ginjal dan kanker. Salah satu penyebab obesitas yang cukup dominan adalah kurangnya aktivitas fisik yang dilakukan oleh masyarakat.

“Data dari Riskesdas menunjukkan bahwa kurang lebih 33 persen penduduk kita itu aktivitas fisiknya kurang. Jadi aktivitas fisik bukan cuma olahraga, misalnya petani ke sawah nyangkul ya itu termasuk. Naik turun tangga juga termasuk,” kata Direktur Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan, Dr Siswanto, saat ditemui di kesempatan yang sama.

Mengubah perilaku dan kebiasaan masyarakat menjadi lebih baik dan aktif merupakan bukan perkara mudah. selain itu makanan seperti fast food, gorengan, dan makanan lainnya yang berkalori tinggi menjadi sebab juga dari obesitas. Menkes Nila menambahkan, diperlukan kesadaran dari diri sendiri agar terhindar dari berbagai penyakit yang dapat beresiko kematian. “Perilaku hidup sehat di masyarakat perlu ditingkatkan. Kita harus menyadari bahwa tantangan di depan kita semakin berat, semakin luas, dan semakin kompleks,” tutupnya.

Sudah banyak studi menemukan adanya kaitan erat antara obesitas dengan risiko kanker. Peneliti bahkan pernah menyebut kalau orang yang obesitas lebih berisiko untuk terserang 13 jenis kanker daripada populasi umumnya. Menurut peneliti dari Trinity College Dublin ini ada kaitannya dengan kerja sel alami tubuh yang bertanggung jawab membunuh kanker.

Dalam studi terbaru yang dipublikasi di jurnal Nature Immunology, peneliti menemukan bahwa kerja sel pembunuh kanker dapat terganggu oleh lemak. Ketika tubuh menimbun banyak lemak sel-sel pembunuh kanker jadi kesulitan karena jalannya terhambat oleh lemak.

“Studi ini menunjukkan bahwa molekul lemak bisa mencegah sel imun menempatkan dirinya untuk membunuh tumor. Dengan studi ini juga muncul wilayah baru untuk diinvestigasi,” kata Dr Leo Carlin dari Cancer Research UK Beatson Institute, seperti dikutip dari BBC, Selasa (13/11/2018).

Namun tetap jalan terbaik untuk menghindari kanker adalah dengan diet, pola makan yang baik dan olahraga membuang lemak ekstra di tubuh.

Kanker Sarcoma

Mengetahui Jenis Kanker Sarkoma. Apa itu kanker sarcoma? Dan Apa Saja Penyebabnya?

Kanker sarcoma adalah sebuah kanker yang agak asing terdengar, padahal sebenarnya kanker sarcoma ini termasuk kanker yang berbahaya. Konsultan Senior Onkologi Medis Parkway Cancer Centre (PCC) dr. Richard Quek menjelaskan Sarkoma merupakan jenis kanker yang berkembang di jaringan ikat, seperti otot, lemak, tulang, tulang rawan, dan pembuluh darah.

Kanker ini bisa muncul di bagian tubuh mana pun, serta memiliki gejala yang tampaknya tidak berbahaya dan sulit dibedakan dari penyakit-penyakit ringan.  “Sarkoma ini jenis kanker. Bukan berarti ada jinak atau ganas. Tetapi memang sudah termasuk kanker dengan berbagai tingkatan level atau stadium,” papar dr. Richard.

Termasuk salah satu kanker berbahaya, kanker sarcoma tidak memiliki gejala-gejala yang akan dialami oleh penderita kanker sarcoma. Sehingga agak sulit untuk terdeteksi dan terlihat atau bahkan kadang seperti merasakan sakit biasa. Hingga saat ini belum diketahui secara pasti penyebab berkembangnya sel kanker jaringan lunak ini.

Namun, faktor yang meningkatkan risiko terkena sarkoma diantaranya adalah riwayat sarkoma di keluarga, memiliki penyakit kelainan tulang, kelainan genetik seperti neurofibromatosis, sindrom Gardner, retinoblastoma, atau sindrom Li-Fraumeni, dan juga terpapar radiasi.

Studi dari Belgia juga mengungkapkan 47 persen pasien  sarkoma jaringan lunak membiarkan gejalanya selama sekitar empat bulan sebelum menemui dokter. Setelah itu, pasien umumnya berkonsultasi ke dokter umum, yang kemungkinan besar hanya menghadapi satu atau dua kasus sarkoma sepanjang karier mereka.

Gejala

Gejala sarkoma yang timbul dapat berbeda-beda, tergantung dari mana sarkoma tersebut berasal. Sarkoma jaringan lunak yang muncul di lengan atau kaki, memiliki gejala paling umum seperti munculnya benjolan besar tanpa rasa sakit.

Sedangkan, sarkoma yang tumbuh di tulang tangan atau kaki, pasien umumnya mengeluhkan nyeri tulang, serta sakit di sekitar area tulang yang terdampak ketika beristirahat atau tidur malam. Beberapa pasien bahkan mungkin mengalami retak tulang.

Gejala-gejala lainnya meliputi ruam gelap pada angiosarcoma atau kanker pembuluh darah, batuk dan sesak napas jika sarkoma berkembang di area dada, serta kembung dan mudah merasa kenyang jika sarkoma tumbuh di bagian perut.

Jika menemui gejala ini, segera periksakan ke dokter untuk mendapatkan penanganan.

“Langkah pertama yang harus dilakukan adalah menyadari kondisi tubuh sendiri. Kemudian, tanyakan pada dokter umum apakah Anda perlu menemui dokter spesialis atau menjalani tes lebih lanjut, seperti MRI atau CT scan, jika gejala tidak hilang setelah pengobatan rutin,” kata Quek.

Menurut Quek, kanker sarkoma yang dideteksi dini saat sel masih berada di satu lokasi, tingkat kelangsungan hidup akan jauh lebih tinggi dibandingkan jika didiagnosis pada tahap akhir.

survivor cancer

Setelah Divonis Sisa Hidup Hanya Tiga Bulan, Wanita Ini Kalahkan Kanker Payudara Stadium Lanjut

Jamu Heritage Artikel

26 Juni 2018

Seorang wanita yang mengidap kanker payudara stadium lanjut berhasil diselamatkan setelah divonis oleh dokter hanya dapat bertahan selama 3 bulan. Awalnya Judy Perkins diperkirakan bakal bertahan hidup hanya selama tiga bulan lantaran kanker payudara telah menyebar dan tidak bisa disembuhkan dengan terapi konvensional saat ini.

Wanita asal Florida Amerika itu punya tumor sebesar bola tenis di bagian liver dan kanker yang menjalar ke sejumlah bagian tubuh. Namun, nyawanya dapat diselamatkan setelah sebuah tim di Institut Kanker Nasional AS melakoni uji coba terapi.

“Sekitar satu pekan setelahnya (terapi) saya mulai merasakan sesuatu. Saya punya tumor di dada dan saya bisa merasakan itu menyusut. Perlu sepekan atau dua pekan lagi sampai rasa itu hilang,” ujar Judy. Judy mengenang pemindaian pertama setelah terapi, tim medis sangat gembira dan meloncat ke sana ke mari. Saat itulah dia diberitahu bahwa dirinya boleh jadi telah disembuhkan.

Setelah itu dua tahun kemudian tim medis tidak menemukan tanda-tanda kanker di tubuh Judy. Wanita itu kini menjalani hidup dengan berrpergian dan berolahraga kayak. Bahkan dia baru menyelesaikan perjalanan lima pekan mengelilingi Florida.

Terapi yang diterapkan pada Judy Perkins, menurut Institut Kanker Nasional di AS, masih memerlukan uji coba lanjutan sebelum bisa digunakan secara luas. Namun prinsip utamanya adalah mengalahkan sel kanker dengan sistem kekebalan tubuh sang pasien. Dr Steven Rosenberg, kepala bedah di Institut Kanker Nasional, mengatakan terapi tersebut merupakan “perawatan paling personal yang bisa dibayangkan.”

Sebelum memulai terapi, tumor pasien dianalisa secara genetis untuk mengenali berbagai perubahan langka yang membuat sel kanker dapat diserang sistem kekebalan tubuh. Dari 62 kejanggalan genetis pada Judy Perkins, hanya empat yang berpotensi diserang.

Selanjutnya para peneliti berburu sel darah putih pasien dan mengambil sel yang mampu menyerang kanker. Sel itu kemudian ditumbuhkembangkan dalam jumlah banyak di laboratorium. Beberapa waktu kemudian, sekitar 90 miliar sel disuntikkan ke tubuh Judy Perkins. Pada saat bersamaan, perempuan berusia 49 tahun itu juga diberi obat-obatan yang mempengaruhi sistem kekebalan tubuh.

“Mutasi-mutasi yang menimbulkan kanker ternyata menjadi titik lemah kanker itu sendiri,” jelas Dr Rosenberg.

Hasil uji coba terhadap Judy Perkins dan uji coba lanjutan yang lebih besar diperlukan untuk memastikan temuan tim medis di Institut Kanker Nasional. Sejauh ini tantangan terapi kekebalan tubuh dalam mengatasi kanker adalah cara tersebut sangat berhasil untuk sejumlah pasien, tapi sebagian besar lainnya tidak merasakan manfaat apapun.

“Terapi ini sangat bersifat uji coba dan kami baru mempelajari bagaimana melakukannya, namun ini berpotensi diterapkan ke semua jenis kanker,” kata Dr Rosenberg. “Banyak pekerjaan yang harus dilakukan, namun ada potensi perubahan paradigma dalam terapi kanker—obat yang unik untuk setiap pasien kanker. Ini sangat berbeda dari perawatan lainnya,” lanjutnya.

Rincian mengenai terapi yang dijalankan Dr Rosenberg dan timnya dipublikasikan jurnal ilmiah Nature Medicine.

Secara terpisah, Dr Simon Vincent selaku direktur riset di lembaga Breast Cancer Now, menilai penelitian Dr Rosenberg adalah “kelas dunia”. “Kami pikir ini adalah hasil yang luar biasa. Ini adalah peluang pertama untuk melihat terapi kekebalan tubuh terhadap kanker payudara jenis paling umum yang baru diuji coba pada satu pasien.” “Ada begitu banyak pekerjaan yang harus dilakukan, tapi ini berpotensi membuka area baru dalam terapi untuk banyak orang.”

Sumber: BBC.com

 

WhatsApp Image 2018-05-30 at 14.58.46

Tips Untuk Mencegah Kanker Kulit Melanoma

Kanker kulit memang lebih berisiko diidap oleh mereka yang berkulit putih, di mana
orang Indonesia umumnya lebih memiliki kulit yang gelap. Namun tak menjadi alasan
orang Indonesia akan bebas dari risiko terkena kanker kulit.

Badan Kesehatan Dunia (WHO) sendiri mengkhawatirkan akan melonjaknya kasus kanker
kulit akibat berkurangnya lapisan ozon dalam atmosfer yang mengakibatkan lebih
banyak lagi radiasi UV (Ultra Violet) mencapai permukaan bumi.

Sinar UV ada 3 jenis, yaitu UV-A, UV-B, UV-C. Yang paling berbahaya adalah sinar UV-C.
Sinar UV-C biasanya dipantulkan kembali sehingga tidak sampai kepermukaan bumi.
Namun demikan paparan sinar matahari pada jam 9-16 dapat memberikan dampak
buruk pada kulit. Sinar UV tak hanya berasal dari sinar matahari, namun juga bisa
bersumber dari bola lampu, alat tanning (tanning beds), televisi, maupun layar gadget.
Walaupun dengan intensitas yg berbeda dari sinar matahari. Tetapi sumber yang paling
berpengaruh adalah lapisan ozon yang menipis.

Diperkirakan setiap 10 persen menipisnya lapisan ozon, maka sekitar 300.000 kasus
kanker kulit non-melanoma dan 4.500 kasus melanoma akan bertambah. Di Indonesia,
kasus kanker kulit relatif tergolong tidak banyak, tetapi kanker kulit ini menjadi kanker
ganas penyebab kematian paling sering di dunia pada orang-orang yang sering terpapar
sinar matahari, misalnya nelayan.

Untuk menghindari paparan sinar matahari dan risiko tinggi terkena kanker kulit, salah
satu caranya adalah dengan menggunakan sunblock atau tabir surya. Pilih tabir surya
yang disesuaikan dengan warna kulit, makin cerah warna kulit kita maka harus memakai
tabir surya dengan SPF (sun protection factor) yang lebih tinggi. Selain SPF juga dikenal
istilah PA (Protection Grade of UVA), makin banyak tanda “+” pada PA makin baik. Dan
penggunaan tabir surya dengan SPF 30 ke atas sudah cukup. Penggunaan tabir surya
dilakukan pengulangan setiap 3-4 jam sekali atau ketika berkeringat dan terkena air.

Gunakan tabir surya 30 menit sebelum keluar rumah atau terkena sinar matahari. Ketika
berkeringat atau terkena air, sunblock boleh ditambah lagi. Supaya efek sunblock terlihat,
penggunannya harus berulang. Kemudian pakai pelindung tubuh, seperti topi, payung,
pakaian lengan panjang, atau kacamata hitam. Untuk pakaian, hindari pakaian berwarna
hitam karena warna hitam lebih menyerap sinar matahari.

selain itu Cara yg baik untuk menjaga kesehatan kulit supaya terhindar dari penuaan dini kulit, kanker kulit dan penyakit kulit lainnya adalah dengan banyak mengkonsumsi sayuran hijau, vitamin A dan E, antioksidan seperti kulit manggis dan obat herbal Curano.

Lalu yang terakhir adalah hindari keluar rumah pada jam 10.00 hingga 14.00 karena di
saat itu matahari sedang di puncak teriknya dan jumlah radiasi ultraviolet meningkat. Jika
terpaksa harus keluar, maka gunakan pelindung tubuh atau tabir surya dan hindar
paparan yang terlalu lama.

MRI

Dokter Sarankan MRI untuk Deteksi Dini Kanker Payudara, Mengapa ?

Kanker payudara sering menjadi persoalan paling dikhawatirkan wanita karena dapat berakibat fatal dari sisi kesehatan dan psikologis. Karena itu, menurut Felly Sahli, dokter spesialis radiologi di Rumah Sakit Pondok Indah, tindakan pencegahan menjadi hal yang wajib dilakukan wanita, yakni dengan pemeriksaan rutin guna mengetahui kondisi kesehatan payudara.

“Salah satu pemeriksaan yang dapat dilakukan untuk mengetahui kesehatan bagian payudara adalah Magnetic Resonance Imaging (MRI),” ujarnya, Senin, 26 Maret 2018.

Felly mengatakan pemeriksaan non-invasif, yang menggunakan medan magnet dan frekuensi gelombang radio, ini menghasilkan gambar cross-sectional yang detail dari struktur tubuh, termasuk payudara. Pemeriksaan yang memanfaatkan cairan kontras, yang dimasukkan ke dalam tubuh, ini sangat direkomendasikannya untuk mendeteksi dini kanker payudara.

Dibandingkan dengan mamografi dan ultrasonografi (USG), pemeriksaan MRI memiliki kelebihan dalam menghasilkan gambar resolusi 3D yang lebih baik. Selain itu, pemeriksaan MRI mampu mendeteksi tumor kecil (occult primary breast carcinoma) yang sulit dideteksi mamografi dan USG.

Pemeriksaan MRI pun lebih baik dalam memperlihatkan ukuran tumor atau kanker serta sangat baik dalam mendeteksi adanya kelainan multifokal atau multisentris di payudara.

“Bahkan MRI juga mampu memberikan informasi lebih detail mengenai perluasan kanker yang mempengaruhi stadium kanker payudara dan rencana tindakan,” katanya.

Kemudian MRI juga dapat digunakan memantau respons maupun kekambuhan setelah dilakukannya terapi kanker payudara dan evaluasi terhadap implan payudara. Namun MRI tidak dapat berdiri sendiri karena mamografi dan USG tetap diperlukan demi mendukung data agar diagnosis menjadi tepat.

Sumber : Tempo.co

kanker pada anak

Kenali Gejala Kanker yang Umum Menyerang Anak

16/02/2018

 

Bertepatan dengan Hari Kanker Anak Sedunia yang jatuh pada Kamis (15/2/2018), Abdul Kadir, Direktur Utama Rumah Sakit (RS) Kanker Dharmais, meminta para orangtua untuk lebih waspada terhadap potensi kanker pada anak.

“Kanker ini tidak hanya menyerang dewasa, justru banyak pada anak-anak,” kata Kadir dalam acara peringatan Hari Kanker Anak Internasional di Gedung Kementerian Kesehatan, Jakarta.

“Anak-anak di sini yang umurnya di bawah 18 tahun. Dari tahun ke tahun anak-anak yang menderita kanker meningkat. Dari seluruh pasien kanker di dunia, lebih dari dua persennya  adalah anak-anak,” imbuhnya.

Baca Juga: 10 Kebiasaan Buruk Sehari-Hari yang Dapat Berbahaya

Kadir menyebut, terdapat enam jenis kanker yang umum menyerang anak-anak, yaitu leukimia, retinoblastoma, neuroblastoma, limfoma malignum, osteosarcoma, dan karsinoma nasofaring.

Orangtua hendaknya mengenali gejala dari keenam kanker tersebut supaya  anak mendapatkan penanganan yang lebih tepat.

Haridini Intan, Kepala Instalasi Anak RS Kanker Dharmais menjelaskan, retinoblastoma merupakan kanker yang paling mudah dikenali cirinya.

Ketika anak berumur 1-5 tahun, tanda kanker mata mulai tampak. Orangtua patut curiga jika anak mengalami kornea membengkak, mata juling, dan jaringan bola mata meradang.

Gejala lain yang dikatakan Haridini yakni anak mulai kabur pandangannya, dan manik mata berubah putih yang seharusnya hitam.

“Sebenarnya kalau untuk anak, deteksi dini kanker bisa diketahui bersamaan waktu imunisasi atau saat memandikan mereka. Orang tua melihat apakah ada benjolan di tubuh,” ujar Haridini.

Sedangkan untuk leukimia, orangtua harus mulai memerhatikan kondisi anak yang sering demam, pucat, lesu, dan kerap terjadi perdarahan tiba-tiba misalnya mimisan. Jika dibiarkan, imunitas anak menurun dan berdampak pada penanganan yang terlambat.

Selanjutnya, orangtua patut mengenali benjolan-benjolan yang terdapat pada tubuh anak.

Apabila sewaktu-waktu melihat ada benjolan membesar di perut anak, kemungkinan anak terserang kanker saraf. Apalagi jika daerah sekitar mata menampilkan warna kebiruan pada kulit.

Gejala yang bisa dilihat dari kanker kelenjar getah bening yakni jika anak memiliki benjolan lebih dari dua sentimeter pada titik-titik yang lunak di tubuh seperti ketiak.

Baca Juga : Kanker Bukan Sebuah Akhir

Benjolan tanda kanker getah bening terus membesar namun tidak menimbulkan rasa nyeri. Tanda lainnya adalah anak juga menjadi mudah lesu, sesak napas, demam, dan tidak bersemangat beraktivitas.

Berikutnya, kanker tulang pada anak dicirikan dengan pegal-pegal yang tidak kunjung berkurang setelah anak beraktivitas.

Tulang menjadi nyeri  sehingga area sekitarnya memerah dan menghangat. Anak tiba-tiba mengalami patah tulang padahal tidak terkena benturan atau apapun.

Mimisan, hidung tersumbat, telinga berdengung, getah bening di leher membesar, dan gangguan pada telinga menjadi tanda adanya kanker karsinoma nasofaring pada anak.

“Jika ada kecurigaan kanker, orangtua segera memastikannya lewat dokter. Kanker yang ditemukan pada stadium awal, akan lebih awal pula pengobatannya,” imbuh Kadir.

 

Sumber: Kompas.com

 

Copyrights © 2017 Jamu Heritage. All Rights Reserved.